balita-care
Kumpulan Artikel untuk Merawat & Membimbing Buah Hati Anda

Balita Vegetarian, Sehatkah?

Friday, May 04, 2007
Sah-sah saja bila balita Anda menjalani pola makan vegetarian. Tapi tentu saja, ada banyak hal yang perlu diperhatikan.

Sebenarnya, menjalani pola makan vegetarian adalah pilihan hidup seseorang yang tak mau mengonsumsi daging-dagingan, termasuk di antaranya daging merah (sapi, kambing, dan sebagainya), unggas, serta ikan. Sebenarnya, apa saja alasannya?

Bisa jadi karena alasan agama, namun bisa juga karena memang memilih cara hidup yang seperti itu. Bagi orang dewasa yang notabene telah melewati masa pertumbuhan, menjadi vegetarian mungkin tidak terlalu menjadi masalah bagi kesehatannya. Pola makan vegetarian biasanya sangat tinggi kandungan zat besi, tapi rendah kolesterol dan lemak. Apa akibatnya? Dapat mengurangi risiko kegemukan, penyakit jantung, hipertensi (penyakit tekanan darah tinggi) dan diabetes tipe II. Tapi, bagaimana bila balita yang menjalaninya?

Boleh-boleh saja asal...

Anak yang sedang dalam masa pertumbuhan memang membutuhkan nutrisi lengkap agar dapat tumbuh kembang dengan optimal dan sehat. Bisa jadi, pada saat ini, masyarakat masih meragukan kondisi kesehatan si kecil bila ia ikut-ikutan jadi vegetarian. Benarkah pola makan seperti ini tidak “aman” baginya?

Menurut Dr. Damayanti Rusli Sjarif, Sp.A(K), staf Sub Bagian Gizi dan Penyakit Metabolik Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, “Sebenarnya, tidak ada masalah! Karena, sampai usia 6 bulan, boleh dibilang bayi itu vegetarian karena hanya mengonsumsi ASI (Air Susu Ibu), PASI (Pendamping ASI) atau bubur tepung. Dia memang sama sekali belum makan daging-dagingan.”

Kalau sudah begini, bolehkah ia tetap jadi vegetarian nantinya? Boleh-boleh saja, asal kombinasi makanannya disusun dengan benar. Yang pasti, makanannya harus mengandung 7 nutrisi lengkap, yaitu kalori, protein, vitamin B12, vitamin D, zat besi, kalsium, serta seng (lihat boks: 7 Jenis Nutrisi Lengkap Balita Vegetarian) . “Jangan sampai pola makan vegetarian menyebabkan gangguan kesehatan anak serta defisiensi vitamin dan mineral akibat pola makan yang tidak terencana dan dikombinasikan dengan baik,” tutur dr. Damayanti.

Tetap harus konsultasi ke ahlinya

Harus diakui, tidak mudah mengatur makanan anak vegetarian. “Jadi, orang tua harus berkonsultasi ke ahli gizi atau dokter yang mendalami pola makan vegetarian ini. Apalagi, beda jenis vegetarian, beda pula susunan makanannya,” lanjut dr. Damayanti. Bagaimana persisnya?

Vegetarian itu sendiri terbagi menjadi 5 jenis (lihat boks: Jenis-jenis Vegetarian). Jika si kecil menganut vegetarian jenis lakto ovo dan lakto yang masih boleh mengonsumsi susu dan telur, sebenarnya ini lebih baik, sebab kebutuhan asam amino esensialnyaakan terpenuhi. Asam amino esensial adalah 8 jenis zat yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan hanya bisa diperoleh dari makanan, yakni isoleusin, leusin, lisin, methionin, femialanin, threonin, triptofan, dan valin. Tubuh tidak bisa membuatnya sendiri,” lanjutnya lagi.

Menurut Dokter Spesialis Anak Metabolik dari Wilhemina Children’s Hospital-Utrecht Medical Center , Belanda, ini, khusus vegetarian jenis vegan, ia harus mengonsumsi jenis-jenis makanan yang asam amino esensialnya saling melengkapi. Contohnya, padi-padian yang kaya methionin dengan biji-bijian yang kaya lisin dan triptofan. Rumit? Tidak juga. Misalnya, Anda bisa kombinasikan nasi dengan tahu atau perkedel jagung, dan sebagainya.

Sebenarnya, adakah perbedaan pertumbuhan anak-anak vegetarian dengan yang tidak? Sampai sekarang, di Indonesia, belum ada penelitian tentang anak-anak vegetarian. Namun, banyak penelitian di luar negeri yang menunjukkan, pertumbuhan anak-anak vegetarian baik-baik saja. Tidak ada perbedaan apapun, kecuali menjaga komposisi makanan anak yang vegan. Kenapa begitu? “Penelitian-penelitian di luar negeri menunjukkan, anak-anak vegetarian jenis vegan ada yang perawakannya lebih pendek dibandingkan dengan anak yang lakto ovo. Ternyata, ini karena susunan makanannya tidak seimbang. Asam amino esensialnya tidak lengkap! Juga, kalori yang didapat dari lemak tidak mencukupi. Kalau begitu, seberapa banyak harusnya kandungan lemak dari nabati? Untuk ini, Anda harus rajin-rajin berkonsultasi ke ahlinya agar susunan makanannya tepat bagi pertumbuhannya. Jangan sekali-kali dianggap remeh,” sambungnya.

Laila Andaryani Hadis
Pengarah gaya: Diah Takarina
Foto: Dennie Ramon dan Dok. Ayahbunda
Lokasi: The Park Lane, Jakarta

Labels:

5/04/2007 03:03:00 PM :: 0 comments ::

Irvana's Family :: permalink


Kenali Jenis Obat Untuk Bayi dan Anak-Anak

Bukannya tidak percaya kepada dokter, tapi tak ada salahnya kalau Anda juga mencari tahu berbagai hal tentang obat umum untuk bayi dan anak.

Infant Paracetamol/Acetaminophen
Paracetamol atau acetaminophen adalah obat anti piretik (meredakan demam) dan analgesic (mengurangi sakit) yang paling umum digunakan. Obat ini sifatnya hanya dapat meredakan gejala-gejala penyakit, tetapi bukan untuk menyembuhkan penyakit itu sendiri, seperti demam dan rasa sakit yang biasanya menyertai influenza. Obat ini dapat dibeli bebas tanpa resep dari dokter. Meski demikian, sebelum membeli Anda harus memastikan jenis sediaan yang tepat. Infant paracetamol, yang biasanya tersedia dalam bentuk drop/tetes, dikhususkan untuk bayi dan dapat digunakan hingga bayi berusia 2 tahun. Namun, sebelum bayi Anda berusia 3 bulan, pemberian obat ini harus mengikuti petunjuk dokter. Setelah bayi berusia 3 bulan, obat ini sudah dapat diberikan dengan mengikuti petunjuk dosis yang ada dalam kemasan.

Jarak pemberian obat minimal 4 jam dan dalam 24 jam sebaiknya tidak lebih dari 4 dosis. Paracetamol adalah obat yang paling aman untuk meredakan demam dan mengurangi rasa sakit, jika digunakan sesuai dosis. Kelebihan dosis dapat menyebabkan kerusakan pada hati. Pada prinsipnya, paracetamol dapat dicampur dengan obat lain asalkan obat lainnya itu tidak mengandung paracetamol juga (karena artinya terjadi kelebihan dosis). Tapi sebaiknya pastikan hal terlebih dahulu ini dengan dokter anak. Jika setelah 72 jam, gejala penyakit (demam dan/ nyeri) tidak membaik ataupun berkurang, segera konsultasikan ke dokter..

Infant Ibuprofen (Ibuprofen khusus untuk bayi)
Ibuprofen termasuk kedalam golongan obat anti inflamasi non-steroid. Ibuprofen bekerja untuk mengurangi rasa sakit, meredakan inflamasi (peradangan) dan demam. Seperti halnya paracetamol, ibuprofen juga dapat dibeli tanpa memerlukan resep dokter. Walaupun infant ibuprofen memang dikhususkan untuk bayi, tetapi obat ini tidak diberikan untuk bayi dibawah 6 bulan atau untuk bayi dengan berat badan kurang dari 7 kg. Dosisnya disesuaikan dengan umur bayi, akan tetapi lebih efektif jika mengukur dosisnya berdasarkan berat badan bayi (10 mg ibuprofen per kilogram berat badan).

Pada prinsipnya, ibuprofen dapat digunakan sebagai pengganti paracetamol, tetapi sebaiknya ikuti dengan seksama instruksi yang tertera pada label kemasan. Generally speaking, ibuprofen digunakan untuk demam yang “membandel” atau suhu tinggi (40oC) disertai dengan peradangan. Pemberian obat ini dapat dilakukan sebanyak 3 – 4 kali dalam 24 jam, tergantung dari usia bayi. Obat ini tidak cocok untuk anak yang mengidap asma. Meskipun sedikit, obat ini juga memiliki efek samping berupa gangguan/iritasi pada lambung (paracetamol tidak memiliki efek ini). Oleh sebab itu, jika anak Anda memiliki lambung yang sensitif sebaiknya jangan mengkonsumsi obat ini. Jika gejala penyakit tidak berkurang setelah 72 jam, segera kunjungi dokter.

Obat Batuk
Istilah ini mungkin kurang tepat karena batuk itu sendiri bukanlah penyakit, melainkan salah satu gejala suatu penyakit. Karena itu yang disebut dengan obat batuk sifatnya hanya dapat meringankan batuk, bukan menyembuhkan batuk. Batuk akan berhenti bila penyakit yang sebenernya (yang menyebabkan batuk) telah disembuhkan.

Yang utama, jangan sembarangan memberikan obat untuk meringankan batuk apalagi yang jenis over the counter (OTC/ dapat dibeli bebas) kepada bayi atau anak Anda. Pastikan lebih dahulu dengan dokter, apakah bayi atau anak Anda benar-benar memerlukannya. Hal ini penting dilakukan, karena bila memang ternyata bayi atau anak Anda memerlukan obat untuk meredakan batuk, obat tersebut harus aman untuknya dan dosis pemberiannya juga tepat. Penelitian yang dilakukan oleh WHO menghasilkan temuan berikut; meskipun masih aman jika digunakan sesuai dosis, ternyata obat (yang so-called obat batuk) tidak banyak membantu untuk meredakan batuk yang disebabkan oleh colds dan flu. Batuk merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk membersihkan paru-paru dan saluran nafas dari berbagai “benda”, seperti dahak, sel-sel mati dan bakteri ketika terjadi infeksi, atau benda asing lainnya, dengan cara mengeluarkannya.

Berdasarkan cara kerjanya, secara umum ada 2 tipe obat untuk meredakan batuk, yaitu ekspetoran dan supresan. Obat ekspetoran bersifat dapat mengencerkan lendir atau dahak sehingga mudah dikeluarkan melalui batuk. Sedangkan supresan bekerja untuk meredakan batuk kering. Beberapa merk “obat batuk” juga mengandung bahan yang sedikit sedatif (menimbulkan efek kantuk). Penting untuk diingat juga, penggunaan “obat batuk” OTC tidak boleh terlalu lama. Cara terbaik untuk menangani batuk adalah segera mencari tahu akar masalah (penyakit sebenarnya) yang menyebabkan si kecil Anda batuk.

Oralit/Pedialyt
Oralit/pedialyt bukan lah obat untuk menghentikan diare, melainkan untuk mencegah tubuh mengalami dehidrasi. Oralit berfungsi untuk mengganti kembali zat-zat mineral tubuh yang hilang ketika bayi atau Anda mengalami diare atau muntah berlebihan. Oralit ini biasanya tersedia dalam kemasan sachet, dan untuk anak-anak(pedialyt) tersedia dalam rasa buah-buahan. Jika bayi Anda berusia kurang dari 1 tahun, pemberian oralit harus mengikuti petunjuk dokter. Sedangkan untuk batita usia di atas 1 tahun, oralit/pedialyt dapat diberikan dengan mengikuti instruksi kemasan. Pedialyt hendaknya diberikan setiap kali bayi mencret atau muntah. Oralit khusus anak atau pedialyt tersedia dalam rasa jeruk sehingga rasanya lebih enak daripada oralit biasa. Berikan larutan pedialyt atau oralit ini sedikit demi sedikit kepada bayi/anak Anda. Jika si kecil memuntahkan oralitnya, berhenti sejenak dan coba untuk memberinya lagi 10 menit kemudian. Disamping itu Anda juga harus meningkatkan asupan cairan ke dalam tubuh si kecil, berikan ASI lebih sering dan atau air putih. Meskipun demikian jika ternyata si kecil terus menerus memuntahkan kembali oralitnya, atau menunjukkan tanda-tanda dehidrasi seperti ubun-ubun cekung, lemas atau mengantuk yang luar biasa (letargi), segera bawa ke dokter.

Antibiotik
Obat ini memang efektif untuk ‘membunuh’ bakteri yang menginfeksi tubuh. Jadi, antibiotik tidak bisa untuk mengatasi penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti selesma (common colds) atau flu. Karena itu jangan ‘menekan’ dokter agar meresepkan antibiotic ketika si kecil Anda terkena penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus, seperti demam, batuk-pilek karena selesma. Penting untuk diingat, bahwa pemberian/penggunaan antibiotika harus dilandasi indikasi klinis. Artinya, jika ternyata anak menderita penyakit yang disebabkan oleh bakteri, memang anak harus mengkonsumsi antibiotic. Penggunaan antibiotic juga harus selalu mengikuti petunjuk dokter. Jangan sekali-kali Anda mencoba memberikan obat yang mengandung antibiotic kepada anak/bayi Anda tanpa sepengetahuan dokter. Dan, jika anak memang sakit karena bakteri, habiskan antibiotic yang diresepkan dokter meskipun kondisi bayi/anak Anda telah membaik. Jika tidak, infeksi yang menyerang anak/bayi Anda dapat kembali dan ketika hal itu terjadi, kemungkinan besar dibutuhkan antibiotic dalam dosis yang lebih besar karena bakteri menjadi resisten terhadap antibiotic. Meskipun jarang terjadi, tetapi antibiotic juga dapat menimbulkan reaksi alergi untuk orang-orang yang sensitif terhadapnya. Antibiotika ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, ia memang ampuh untuk menyembuhkan berbagai penyakit (yang disebabkan oleh bakteri) sehingga dapat menyelamatkan nyawa manusia. Tapi di sisi lain, antibiotika juga dapat “merugikan” manusia akibat ulah manusia sendiri yang seringkali tidak rasional menggunakannya.

Source : milist annahl

Labels:

5/04/2007 02:49:00 PM :: 0 comments ::

Irvana's Family :: permalink


Normal atau Abnormal

Tuesday, May 23, 2006
Perkembangan Anak : Normal atau Abnormal ?

A. Pendahuluan

Mengamati seorang anak yang sedang berkembang merupakan hal yang sangat menarik. Ia berkembang dari bayi yang sedang terlentang pasif, kemudian dapat tengkurap, duduk, berdiri, berjalan sampai berlari-lari dengan aktif. Dari tidak mengerti apa-apa, mengoceh, kemudian dapat berbicara. Proses perkembangan otak yang optimal sesuai dengan tahapan umurnya.
Perkembangan dapat dibagi menjadi perkembangan motorik kasar, perkembangan pemecahan masalah visuo-motor yang merupakan gabungan fungsi penglihatan dan motorik halus, perkembangan bahasa dan perkembangan sosial.
Sebenarnya perkembangan seorang anak merupakan suatu kesatuan yang utuh, pembagian tersebut semata-mata hanya untuk memudahkan pengamatan, diagnosis dan penanganan bila terdapat suatu penyimpangan.
Hubungan perkembangan motorik kasar dengan kecerdasan di kemudian hari sangat sedikit, anak yang menderita redartasi mental tidak selalu mengalami keterlambatan perkembangan motorik kasar sedangkan anak dengan perkembangan motorik kasar yang sangat cepat belum tentu merupakan anak yang cerdas. Mengenai perkembangan motorik kasar tidak dibicarakan hari ini.

Sesuai topik Autisma, yang penting diketahui adalah perkembangan bahasa dan pemecahan masalah visuo-motor.
Kedua jenis perkembangan ini sangat berhubungan dengan kemampuan intelek di kemudian hari.

B. Perkembangan motorik halus dan pemecahan masalah visuo-motor Perkembangan motorik halus dan pemecahan masalah visuo-motor adalah kemampuan tangan dan jari-jari serta koordinasi mata-tangan untuk memanipulasi lingkungan. Sebagai contoh, misalnya seorang bayi melihat suatu benda yang menarik perhatiannya (visual). Ia berpikir bagaimana cara mendapat benda yang menarik tersebut (kecerdasan). Ia akan merangkak mendekati benda tersebut (lokomosi dan postur), kemudian meraih benda tersebut dengan jari-jarinya dan benda tersebut dimasukkan ke mulutnya (motorik halus).
Jelaslah bahwa kemampuan ini dipengaruhi oleh matangnya fungsi motorik berupa postur dan koordinasi saraf-otot yang baik, fungsipenglihatan yang akurat dan kecerdasan. Kemampuan memecahkan masalah visuo-motor merupakan indikator yang baik dari intelegensi si kemudian hari. Bila ada gangguan, harus dibedakan apakah penyebabnya motorik, gangguan penglihatan atau kecerdasan.
Kontrol tangan dimuali dari bahu yang menghasilakan gerak lengan yang kasar, menjadi gerak siku yang baik dan akhirnya gerak pergelangan tangan dan jari-jari.
Gerak mengambil benda dimulai dari mengambil dengan genggaman seluruh tangan kemudian menggunakan jari-jari untuk melakukan pincer grasp (menjumput dengan dua jari).

B.1. Tahapan perkembangan motorik halus dan pemecahan masalah visuo-motor Visual
Fiksasi pandangan lahir

Mengikuti benda melaui garis tengah 2 bulan
Mengetahui adanya benda kecil 5 bulan

Motorik Halus
Telapak tangan terbuka 3 bulan
Menyatukan kedua tangan 4 bulan
Memindahkan benda antara kedua tangan 5 bulan
Meraih unilateral 6 bulan
Pincer grasp imatur 9 bulan
Pincer grasp matur dengan jari 11 bulan
Melepaskan benda dengan sengaja 12 bulan

Pemecahan Masalah
Memeriksa benda 7-8 bulan
Melemparkan benda 9 bulan
Membuka penutup mainan 10 bulan
Meletakkan kubus di bawah gelas 11 bulan


Menggambar
Mencoret 12 bulan
Meniru membuat garis 15 bulan
Membuat garis spontan 18 bulan
Membuat garis horisontal dan vertikal 25-27 bulan
Meniru membuat lingkaran 30 bulan
Membuat lingkaran spontan tanpa melihat contoh 3 tahun


Melaksanakan Tugas
Memasukkan biji ke dalam botol 12 bulan
Melepaskan biji dengan meniru 14 bulan
Melepaskan biji spontan 16 bulan


Menyusun Kubus (gunakan kubus dengan sisi 2,5 cm)
Menyusun 2 kubus 15 bulan
Menyusun 3 kubus 16 bulan
Kereta api dengan 4 kubus 2 tahun
Kereta api dengan cerobong asap 2,5 tahun
Jembatan dari 3 kubus 3 tahun
Pintu gerbang dari 5 kubus 4 tahun
Tangga dan dinding dari beberapa kubus tanpa melihat
contoh 6 tahun


Makan
Makan biskuit yang dipegang 9 bulan
Minum dari gelas sendiri/menggunakan sendok 12 bulan


Berpakaian
Membuka baju sendiri 24 bulan
Memakai baju 36 bulan
Membuka kancing 36 bulan
Memasang kancing 48 bulan
Mengikatkan tali sepatu 60 bulan

B.2. Keterlambatan perkembangan motorik halus Adanya keterlambatan harus difikirkan bila ditemukan hal berikut :

* Tidak mau memegang atau mengenal benda yang
diletakkan di tangannya pada usia 4 bulan
* Tangan tetap terkepal erat sampai usia 4-5 bulan
* Tidak dapat melakukan gerak menjumput benda kecil
dengan ujung jari sampai 1 tahun
* Tidak dapat melepaskan benda kecil ke dalam gelas
usia 18 bulan
* Tetap bermain dengan jari sampai usia 6-7 bulan
* Tetap memasukkan benda ke dalam mulut disertai
ngiler berlebihan sampai usia 2 tahun

Pada anak yang agak besar, gangguan perkembangan pemecahan masalah visuo-motor dapat diperiksa secara bermain dengan anak. Gunakan kubus berukuran 2,5 cm untuk menguji kemampuan anak. Uji lain dapat dilakukan dengan menggambar menggunakan crayon. Beberapa gangguan gerak dapat merupakan bagian dari suatu kelainan saraf.

* Gerakan seperti mencuci tangan terus menerus pada
anak perempuan dapat merupakan ciri sindrom Rett, suatu kelainan yang ditandai kemunduran mental seorang anak.
* Gerakan tangan seperti melambai-lambai disisi tubuh
dapat menjadi salah satu autisma.
* Anak yang bermain monoton dapat menjadi ciri
autisma.

C.Perkembangan bahasa

Fungsi berbahasa merupakan proses paling kompleks di antara seluruh fase perkembangan. Fungsi berbahasa bersama fungsi perkembangan pemecahan masalah visuo-motor merupakan indikator yang paling baik dari ada tidaknya gangguan perkembangan intelek. Gabungan kedua fungsi perkembangan ini akan menjadi fungsi perkembangan sosial. Perkembangan bahasa memerlukan fungsi reseptif dan ekspresif. Fungsi reseptif adalah kemampuan anak untuk mengenal dan bereaksi terhadap seseorang, terhadap kejadian lingkungan sekitarnya, mengerti maksud mimik dan nada suara dan akhirnya mengerti kata-kata. Fungsi ekspresif adalah kemampuan anak mengutarakan pikirannya, dimulai dari komunikasi preverbal (sebelum anak dapat berbicara), komunikasi dengan ekpresi wajah, gerakan tubuh, dan akhirnya dengan menggunakan kata-kata atau komunikasi verbal.

C.1. Fungsi berbahasa pada bayi baru lahir

Fungsi reseptif terlihat dengan adanya reaksi terhadap suara. Hal ini pada mulanya bersifat refleks. Kemudian ia memperlihatkan respons motorik berupa terdiam kalau mendengar suara, mengedip, atau seperti gerak terkejut. Fungsi ekspresif muncul berupa mengeluarkan suara tenggorok misalnya bertahak, batuk dan menangis.
Fungsi suara tenggorok berangsur menghilang umur 2 bulan, digantikan dengan suara "ooo-ooo". Senyum sosial telah dapat dilihat pada umur 5 minggu dengan berbicara atau mengelus pipinya. Senyum simetris, tidak seperti senyum asimetris yang dapat terlihat pada saat anak buang air besar atau kecil yang disebut sebagai meringis. Reaksi orientasi terhadap bunyi seperti respons motorik, mengedip atau gerakan seperti kaget merupakan hal yang
penting untuk diperhatikan.

C.2. Fungsi berbahasa pada umur 2-12 bulan

Pada umur 2 bulan, bayi dapat mengeluarkan suara "ooo-ooo" dengan irama yang musikal. Pada umur 4 bulan, terdengar suara "agguuu-aguuu". Pada umur 6 bulan terdengar anak dapat menggumam. Pada umur 8 bulan ia dapat mengucapkan "dadada" lalu menjadi "dada" yang belum berarti, disusul "dada" yang diucapkan saat ia melihat ayahnya. "Mama" akan muncul lebih belakang. Ia dapat mengerti "Tidak boleh!" yang disertai suara nada tinggi pada umur 9 bulan. Pada umur 11 bulan ia dapat mengucapkan kata pertama yang benar, disusul kata kedua pada umur 1 tahun. Orientasi terhadap bel dapat digunakan untuk menguji kemampuan reseptif dan orientasi. Pada umur 5 bulan ia menoleh tetapi tidak menatap kepada suara. Umur 7 bulan menoleh dan menatap sumber suara. Umur 10 bulan ia mencari dan menatap sumber suara. Bel tidak dapat digunakan untuk menguji pendengaran dengan baik.

C.3. Fungsi berbahasa 12-18 bulan

Antara 12-15 bulan terdengar munculnya kata-kata baru sebanyak 4-6 kata. Dapat terdengar pula immature jargoning yaitu anak berbicara dalam bahasa yang aneh, atau mencoba mengucapkan kalimat berupa suara yang tidak jelas artinya. Antara 16-17 bulan, ia sudah dapat menguasai 7-20 kata jargoning menjadi lebih matang yang ditandai munculnya kata yang benar diantara kata yang tidak benar. Pada usia 18 bulan, ia dapat mengucapkan kalimat pendek yang susunannya belum benar misalnya :"Joni minta", "Kasih joni", "minta susu".

C.4. Fungsi berbahasa setelah 18 bulan

Pada umur 21 bulan, perbendaharaan kata mencapai 50 kata, dan ia dapat mengucapkan kalimat terdiri dari 2 kata. Ia sudah menggunakan kata "saya"’ kamu walaupun seringkali belum tepat. Pada umur 30 bulan, kata "saya", "kamu" sudah benar. Pada umur 3 tahun ia menguasai 250 kata dan dapat membentuk kalimat terdiri dari 3 kata. Pada umur 4 tahun ia mulai bertanya mengenai arti suatu kata, terutama yang abstrak. Ia dapat bercerita dan menggunakan kalimat terdiri dari
4-5 kata.
Reseptif
Bereaksi terhadap suara lahir
Tersenyum sosial 5 minggu
Orientasi terhadap suara 4 bulan
Menoleh kepada suara bel
- Fase I 5 bulan
- Fase II 7 bulan
- Fase III 9 bulan
Mengerti perintah "Tidak boleh" 8 bulan
Mengerti perintah ditambah mimik 11 bulan
Mengerti perintah tanpa mimik 14 bulan
Menunjuk 5 bagian badan yang disebutkan 17 bulan


Ekspresif
Oooo-ooo 6 minggu
Guu, guuu 3 bulan
a-guuu, a-guuu 4 bulan
Mengoceh 4-6 bulan
Dadadada (menggumam) 6 bulan
Da-da tanpa arti
Ma-ma tanpa arti 8 bulan
Dada 10 bulan
Ma-ma
Kata pertama selain mama 11 bulan
Kata kedua 12 bulan
Kata ketiga 13 bulan
4-6 kata 15 bulan
7-20 kata 17 bulan
Kalimat pendek 2 kata 21 bulan
50 kata
Kalimat terdiri dari 2 kata 2 tahun
250 kata
Kalimat terdiri dari 3 kata 3 tahun
Kalimat terdiri dari 4-5 kata
Bercerita Menanyakan arti suatu kata Menghitung sampai
20 4 tahun

C.5. Keterlambatan, disosiasi dan deviansi

Kemungkinan adanya kesulitan berbahasa harus difikirkan bila seorang anak terlambat mencapai tahapan unit bahasa yang sesuai untuk umurnya. Unit bahasa tersebut dapat berupa suara, kata, dan kalimat.
Selanjutnya fungsi berbahasa diatur pula oleh aturan tata bahasa, yaitu bagaimana suara membentuk kata, kata membentuk kalimat yang benar dan seterusnya.
Keterlambatan bicara terjadi pada 3-15% anak, dan merupakan kelainan perkembangan yang paling sering terjadi. Sebanyak 1% anak uang mengalami keterlambatan bicara tetap tidak dapat bicara. Tiga puluh persen diantara anak yang mengalami keterlambatan ringan akan sembuh sendiri, tetapi 70% diantaranya akan mengalami kesulitan berbahasa, kurang pandai atau berbagai kesulitan belajar lainnya. Kemampuan berbahasa sangat terlambat bila :

* Bayi tidak mau tersenyum sosial sampai 10 minggu
* Bayi tidak mengeluarkan suara sebagai jawaban pada
usia 3 bulan
* Tidak ada perhatian terhadap sekitar sampai usia 8
bulan
* Tidak bicara sampai usia 15 bulan
* Tidak mengucapkan 3-4 kata sampai usia 20 bulan

Disosiasi ditandai perbedaan yang bermakna antara kecepatan perkembangan 2 fase yang berbeda. Hal ini penting untuk deteksi gangguan komunikasi, dimana fungsi bahan jelas tertinggal dari fungsi pemecahan masalah. Pada retardasi mental, keduanya terlambat sedangkan pada gangguan motorik yang disebut sebagai palsi selebral fungsi motorik terlambat dibandingkan fungsi bahasa dan pemecahan masalah. Deviansi menunjukkkan progresi berbahasa yang tidak teratur atau tidak menurut aturan yang seharusnya. Keadaan inilah yang sering lolos dari pemeriksaan.
Kadang-kadang salah diagnosis sebagai kelainan jiwa.
Misalnya anak berumur 15 bulan sudah mempunyai perbendaharaan kata 10-15 kata (kemampuan anak 18-20
bulan) tetapi tidak menunjukkan jargoning yang imatur (kemampuan anak 14-15 bulan) terlihat juga adanya kata yang diucapkan tetapi tidak dimengerti artinya. Pada anak prasekolah, misalnya dapat membuat kalimat 5 – 6 kata tetapi perbendaharaan baru terbatas pada 200-300 kata (kemampuan anak berumur 2,5 tahun). Deviansi yang hebat sering terlihat dan menjadi ciri autisma. Dalam keadaan ini kemampuan ekspresif lebih menonjol dibandingkan kemampuan reseptif.

C.6. Penyebab gangguan bicara dan berbahasa
*
Redartasi mental. Redartasi mental adalah kurangnya kepandaian seorang anak dibandingkan anak lain seusianya. Redartasi mental merupakan penyebab terbanyak dari gangguan bahasa. Pada kasus redartasi mental, keterlambatan berbahasa selalu disertai keterlambatan dalam bidang pemecahan masalah visuo-motor.
*

Gangguan pendengaran. Anak yang mengalami gangguan pendengaran kurang mendengar pembicaraan disekitarnya.
Gangguan pendengaran selalu harus difikirkan bila ada keterlambatan bicara. Pengobatan dengan pemasangan alat bantu dengar akan sangat membantu bila kelainan ini dideteksi sejak awal. Pada anak yang mengalami gangguan pendengaran tetapi kepandaian normal, perkembangan berbahasa sampai 6-9 bulan tampaknya normal dan tidak ada kemunduran. Kemudian menggumam akan hilang disusul hilangnya suara lain dan anak tampaknya sangat pendiam. Adanya kemunduran ini juga seringkali dicurigai sebagai kelainan saraf degeneratif.
*

Gangguan bicara karena kelainan organ bicara. Keadaan ini tidak dibahas disisni.
*

Gangguan berbahasa sentral adalah ketidak sanggupan untuk menggabungkan kemampuan pemecahan masalah dengan kemampuan berbahasa yang selalu lebih rendah. Ia sering menggunakan mimik untuk menyatakan kehendaknya seperti pada pantomim. Pada usia sekolah, terlihat dalam bentuk kesulitan belajar.
*

Yang paling berat adalah autisma yang merupakan gangguan komunikasi yang paling menunjukkan deviansi.
Istilah autisma digunakan untuk ciri gangguan berbahasa dan tingkah laku. Hal yang lebih mendalam tentang autisma akan dibahas oleh pembicara lain.
*

Mutisme selektif biasanya terlihat pada anak berumur
3-5 tahun, yang tidak mau bicara pada keadaan tertentu, misalnya di sekolah atau bila ada orang tertentu. Atau kadang-kadang ia hanya mau bicara pada orang tertentu, biasanya anak yang lebih tua. Keadaan ini lebih banyak dihubungkan dengan kelainan yang disebut sebagai neurosis atau gangguan motivasi.
Keadaan ini juga ditemukan pada anak dengan gangguan komunikasi sentral dengan intelegensi yang normal atau sedikit rendah.
*

Deprivasi. Dalam keadaan ini anak tidak mendapat rangsang yang cukup dari lingkungannya. Apakah stimulasi yang kurang akan menyebabkan gangguan berbahasa? Penelitian menunjukkan sedikit keterlambatan bicara, tetapi tidak berat. Bilamana anak yang kurang mendapat stimulasi tersebut juga mengalami kurang makan atau child abuse, maka kelainan berbahasa dapat lebih berat karena penyebabnya bukan deprivasi semata-mata tetapi juga kelainan saraf karena kurang gizi atau child abuse.
*

Bicara dalam 2 bahasa hanya kadang-kadang saja menyebabkan keterlambatan. Umumnya anak dapat menguasai 2 bahasa dengan mudah.
*

Keterlambatan fungsional: Dalam keadaan ini biasanya fungsi reseptif sangat baik, dan anak hanya mengalami gangguan dalam fungsi ekspresif: Ciri khas adalah anak tidak menunjukkan kelainan neurologis lain.

C.7. Cara membedakan berbagai keterlambatan berbahasa

Dengan memperhatikan fungsi reseptif, ekspresif, kemampuan pemecahan masalah visuo-motor dan pola keterlambatan perkembangan, dapat diperkirakan penyebab kesulitan berbicara.
Diagnosis Bahasa reseptif Bahasa ekspresif Kemampuan
pemecahan masalah visuo-motor Pola perkembangan
Tuli < normal < normal normal Disosiasi
Redartasi mental < normal < normal < normal
Keterlambatan global
Gangguan komunikasi sentral < normal < normal normal
Disosiasi, deviansi
Kesulitan belajar normal, normal normal,< normal
Disosiasi
Autisma normal,< normal Tampaknya normal, normal,
selalu lebih baik dari bahasa Deviansi, disosiasi
Mutisme elektif normal normal normal,< normal
Keterlambatan fungsional normal < normal normal Hanya
ekspresif yang terganggu


Kesimpulan
Dalam perkembangannya menjadi manusia dewasa, seorang anak berkembang melalui tahapan tertentu. Diantara jenis perkembangan, yang paling penting untuk menentukan kemampuan intelegensi di kemudian hari adalah perkembangan motorik halus dan pemecahan masalah visuo-motor, serta perkembangan berbahasa.
Kemudian keduanya berkembang menjadi perkembangan sosial yang merupakan adaptasi terhadap lingkungan.
Walaupun kecepatan perkembangan setiap anak berbeda-beda, kita harus waspada apabila seorang anak mengalami keterlambatan perkembangan atau penyimpangan perkembangan. Untuk mendeteksi keterlambatan, dapat digunakan 2 pendekatan : Yang pertama adalah menyerahkan kepada orang tua, nenek, guru atau pengasuh untuk melaporkan bila anak mengalami kesulitan berbahasa. Kerugian cara ini adalah bahwa orang tua sering menganggap bahwa anak akan dapat menyusul keterlambatannya dikemudian hari dan cukup ditunggu saja, atau nenek mengatakan bahwa ayah atau ibu juga terlambat bicara, atau anggapan bahwa anak yang cepat jalan akan lebih lambat bicara.
Kadang-kadang disulitkan oleh reaksi menolak dari orang tua yang tidak mengakui bahwa anak mengalami keterlambatan bicara Pendekatan kedua adalah dengan deteksi aktif, membandingkan apakah seorang anak dapat melakukan fungsi bahasa yang sesuai dengan baku untuk anak seusianya. Pendekatan kedua juga mempunyai kelemahan yaitu akan terlalu banyak anak yang diidentifikasi sebagai "abnormal" karena bicara terlambat. Sebagian besar diantaranya memang secara alamiah akan menyusul bicara dikemudian hari.
Kadang-kadang masih ditemukan dokter yang dengan ringan mengatakan : "Tidak apa-apa, ditunggu saja".
Menurut hemat saya peran orang tua untuk melaporkan kecurigaannya dan peran dokter untuk menanggapi keluhan tersebut sama pentingnya dalam penatalaksanaan anak. Bila dijumpai keterlambatan atau penyimpangan harus dilakukan pemeriksaan atau menentukan apakah hal tersebut merupakan variasi normal atau suatu kelainan yang serius. Jangan berpegang pada pendapat :"Nanti juga akan berkembang sendiri" atau "Anak semata-mata hanya terlambat sedikit" tanpa bukti yang kuat, yang akan mengakibatkan diagnosis yang terlambat dan penatalaksanaan yang semakin sulit.

Daftar Rujukan
Tudor M, Child
development. New york: McGraw-Hill Book Company, 1981.
Capute AJ, Accardo PJ. Development disabilities in infanci and childhood. Baltimore: Paul H Brookes Publ.
Co, 1991.
Illingworth RS.
The development of the infant and young child. Normal and abnormal: edisi ke-5. London : Churchill Livingstone, 1972.
Levy SE, Hyman SL.
Pediatric assesment of the child with development delay. Pediatric Clin North Am 1993; 40:465-77.
Drillen CM, Drummond MB.
Neurodevelopmental problems in early chilhood.
Assesment and management. London : Blackwell Scientific Publications, 1977.
Rapin I.
Children with hearing impairment. Dalam : Swaiman KF, Ed. Pediatric neurology principles and practice; edisi ke-2. St. louis: The C.V. Mosby Company, 1994;1153-67.
5/23/2006 02:05:00 PM :: 0 comments ::

Irvana's Family :: permalink


5 Hal Penting Bagi Bayi Yang Tak Boleh Diabaikan

Mempunyai bayi memang menyenangkan. Senyum dan mata beningnya mengingatkan kita akan dongeng tentang bidadari. Nah, tahukah kita ada banyak hal kecil yang seringkali luput dari perhatian orang tua. Apa saja?
Berikut di antaranya seperti yang dijelaskan Dr. M.V.Ghazali, Sp.A., dari Kid's World, Jakarta.*

* 1. Sendawakan Setelah Menyusu *

Hampir setiap jam bayi minum susu. Dari yang masih minum ASI eksklusif sampai yang sudah ditambah dengan susu formula. Aturannya setelah minum susu, bayi harus disendawakan.

Alasan Medis:

- Pada dasarnya refleks isap bayi belum terlalu bagus. Akibatnya, bersamaan dengan saat mengisap ASI, boleh jadi ada saja udara yang masuk. Belum lagi cara minum ASI yang salah.

- Pemilihan ukuran dot yang tidak tepat pun bisa menyebabkan adanya udara yang ikut terisap masuk bersamaan dengan susu yang diminum bayi dari botolnya.

Intinya udara yang ikut masuk ke dalam mulut saat minum susu itulah yang berbahaya. "Secara teoritis, udara selalu mencari tempat yang lebih tinggi.
Banyaknya udara yang masuk dapat mendorong susu yang diminum muntah kembali," jelas dokter yang akrab disapa Vinci ini. Padahal posisi gerak bayi masih sangat terbatas dan setelah minum susu biasanya langsung ditidurkan. Saat tergolek seperti ini, muntahan susu dapat menutupi muara tenggorokan dan kerongkongan.

Harap diingat, refleks batuknya belum sempurna, hingga bayi bisa tersedak muntahannya sendiri. Yang lebih membahayakan bila cairan tersebut masuk ke dalam paru-paru. "Ini yang disebut respirasi pneumonia," lanjut Vinci. Oleh karenanya, menyendawakan bayi setelah minum susu sangat penting.

Cara Melakukan:

Menyendawakan bayi tidaklah sulit, asal tahu cara-caranya sebagai berikut:

- Gendong anak pada posisi vertikal.

- Topang punggungnya di dada ibu.

- Satu tangan ditaruh di bawah pantat anak untuk menahan tubuhnya supaya tidak *melorot*, sementara satu tangan lainnya digunakan untuk menyangga kepala dan lehernya.

- Jari tangan yang posisinya di pantat anak digunakan untuk menepuk-nepuknya supaya bersendawa.

- Posisi kepala anak harus berada di atas bahu ibu dan pastikan hidungnya tidak tertutup bahu si ibu.

- Dalam 2-3 menit setelah "diberdirikan" seharusnya anak sudah bersendawa.
Dengan mudah ibu bisa memastikannya bila posisi mulut bayi tak jauh dari telinga ibu.

- Untuk mudahnya, latihan berikut bisa dilakukan di depan cermin.

* 2. Gunting Kuku *

Tak hanya orang dewasa saja yang perlu memotong kukunya, bayi pun harus melakukan hal yang sama. "Seringkali orang tua, apalagi orang tua baru, takut memotong kuku bayinya. Padahal kalau tidak dipotong justru banyak bahayanya," jelas Vinci.

Alasan Medis:

- Bayi sering merasa gatal, entah digigit nyamuk atau alergi susu (dermatitis atopi). Kalau kukunya dibiarkan panjang, bukan tak mungkin saat menggaruk bagian tubuh yang gatal malah menorehkan luka di wajah atau bagian tubuh lainnya.

- Kuku yang dibiarkan panjang berpeluang menjadi tempat penumpukan kotoran.
Padahal tak jarang bayi memasukkan tangannya ke mulut. Kalau kukunya kotor tentu saja kian banyak kuman yang ikut terbawa masuk.

Cara Melakukan:

Keengganan orang tua memotong kuku bayi umumnya akibat rasa takut atau perasaan tidak tega. "Aduh, jarinya kan masih kecil banget. Apa iya aku bisa memotong kuku tanpa melukainya?" Padahal ini bukan sesuatu yang teramat sulit kok, asal tahu sejumlah triknya:

- Gunakan gunting kuku khusus untuk bayi.

- Untuk setiap kuku, potong terlebih dulu bagian ujung kiri dan kanannya, hingga membentuk segitiga di tengah.

- Setelah itu barulah potong sisanya (kuku di tengah yang kini berbentuk segitiga). Dengan cara ini, tidak ada sisa kuku yang tertinggal yang bisa menyebabkan radang sela kuku.

- Setiap berapa hari kuku bayi perlu dipotong? Tidak ada patokan baku, tergantung dari kecepatan tumbuh kukunya yang berbeda-benda antarindividu.

* 3. Membersihkan Telinga dan Hidung *

Telinga dan hidung memiliki banyak bagian yang tersembunyi. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, kebersihannya harus tetap terjaga. Dulu orang sering membersihkan kotoran di hidung bayi dengan cara menyedotnya. Amankah? "Dari segi kesehatan, jelas tidak. Soalnya belum tentu mulut orang tua yang untuk menyedot kotoran si bayi bebas kuman dan bakteri.
Makanya tindakan ini justru berpeluang mentransfer kuman dari mulut orang tua ke hidung anak.

Alasan Medis :

Secara normal hidung dan telinga manusia menghasilkan kotoran akibat kerja bulu getar yang terdapat di dalamnya. Bulu-bulu getar itu laiknya ban berjalan yang menyaring dan mendorong kotoran sampai ke muara. Di situlah kotoran tersebut ditumpuk dan harus dibersihkan. Bahkan beberapa anak dengan bakat alergi, tumpukan jumlah kotorannya lebih banyak. Bila dibiarkan saja, kotoran itu makin lama makin bertumpuk dan mengeras. Akibatnya, selain kian susah dibersihkan, tumpukan kotoran tersebut menjadi tempat yang nyaman untuk bersemayamnya berbagai macam penyakit.

Cara Melakukan:

- Tak perlu takut dan ragu untuk membersihkan kotoran di hidung dan telinga anak. Percayalah, manfaatnya jauh lebih banyak daripada ketakutan saat mencoba melakukannya pertama kali.

- Karena saluran telinga anak berbentuk vertikal dan melengkung, maka untuk memudahkannya, tarik telinga anak ke belakang sehingga rata sebelum mulai membersihkannya.

- Secara alami tubuh mempunyai kemampuan untuk mengeluarkan sendiri kotoran yang masuk. Demikian juga dengan telinga. Bila bayi bisa mengisap dengan benar saat minum susu, maka bersamaan dengan itu proses pengeluaran kotoran sedang berlangsung. Kotoran ini akan menumpuk di bagian permukaan.

- Bersihkan secara perlahan hanya di bagian luarnya saja tempat kotoran menumpuk. Jangan coba-coba membersihkan terlalu dalam karena banyak organ vital yang sangat sensitif di dalam telinga. Salah-salah bukannya bersih, tapi malah bisa berakibat fatal.

- Sama halnya dengan telinga, hidung juga berkemampuan menumpuk kotoran yang dihasilkan di muara hidung.

- Selama bulu getar masih bisa bekerja dengan sempurna, tak perlu khawatir ada kotoran yang tertinggal jauh di dalam. Semuanya pasti terbawa keluar hingga dengan mudah orang tua cukup membersihkannya di daerah tersebut.

-* Cotton buds* boleh saja digunakan sepanjang pemilihannya tepat. Yaitu yang ujungnya tidak lancip, kapasnya tidak terlalu besar dan tak mudah lepas.

- Berapa lama sekali harus dibersihkan tergantung seberapa cepat kotoran tersebut menumpuk kembali dan ini bisa berbeda pada masing-masing anak.
Namun sekadar acuan, dibersihkan setiap hari pun tidak masalah.

* 4. Popok Sekali Pakai (POSPAK) *

*Zaman sudah berubah. Beberapa puluh tahun lalu popok kain merupakan sesuatu yang wajib dikenakan bayi. Sementara pengatur udara (AC) masih merupakan barang mewah, hingga bayi mengeluarkan banyak keringat. Akibat dari banyaknya keringat yang keluar, buang air kecilnya relatif sedikit.
Namun kini dengan alasan praktis, muncul tawaran popok sekali pakai (pospak). Banyak pihak menyangsikan tingkat higienisnya bila sepanjang hari si kecil mengenakan pospak. Benarkah pantat si kecil harus sesekali "diistirahatkan"?

Alasan Medis :

- Dengan memakai popok kain, tiap kali BAK/BAB popoknya langsung basah. Bila tidak segera dibersihkan, bayi akan merasa risih dan akibatnya menjadi rewel. Popok kain membuat orang tua mau tidak mau harus sering menggantinya.
Manfaatnya? Kebersihannya lebih terjamin karena begitu popoknya kotor segera diganti.

- Beberapa bayi yang gampang alergi, penggunaan pospak bisa mendatangkan masalah. Misalnya bahan/parfumnya membuat kulitnya gatal-gatal. Tekanan benang karet di pinggang dan lingkar pahanya pun bila terlalu lama bisa membuat kulitnya kemerahan dan gatal. Belum lagi dampak ruam popok dan sebagainya.

- Dari segi kebersihan, bayi yang menggunakan pospak bisa BAK/BAB tanpa membuat basah sekitarnya. Seringkali kotoran tersebut sudah menumpuk.
Berbagai bakteri yang merupakan flora normal yang hidup dalam fases anak bisa terdorong ke depan, sehingga dalam jangka panjang dapat menyebabkan infeksi saluran kemih. Kadang infeksi ini tidak disertai demam, hingga begitu terdiagnosa kondisinya sudah parah.

- Bila bayi seharian di rumah saja, tak ada salahnya memakai popok kain.
"Tapi kalau memang harus bepergian, memakai pospak pun tak apa, asal sering diganti supaya kebersihannya terjamin."

Cara Memilih :

- Pada dasarnya hampir semua merek pospak sama saja. Kalau ada yang menawarkan kelembutan ekstra, memakai pori-pori sehingga pantat bisa "bernapas", sirkulasi udara dengan teknologi tertentu dan sebagainya, "Itu hanya tambahan saja dan tidak terlalu penting," tegas Vinci. Adapun kriteria memilihkan pospak yang disarankan Vinci sebagai berikut:

- Pilih bahan yang tidak menimbulkan alergi. Ada anak yang alergi menggunakan merek A, namun ada juga yang alergi merek B. Intinya, sesuaikan dengan kondisi si kecil. Bahkan merek yang harganya paling mahal atau paling murah pun bisa menimbulkan reaksi yang berbeda pada tiap anak.

- Pilihlah ukuran yang sesuai. Jangan terlalu sempit, tapi jangan juga kebesaran. Pospak yang ukurannya tidak tepat hanya akan membuat anak merasa tidak nyaman.

* 5. Posisi Tidur*

*Orang* dewasa pun menginginkan posisi tidur yang nyaman. Sebab dengan posisi yang nyaman, tidurnya akan pulas dan tubuhnya kembali bugar.
Bagaimana dengan bayi?

Alasan Medis:

- Posisi tidur yang baik untuk bayi saat ini masih diperdebatkan, apakah telentang atau tengkurap.

- Telentang, positifnya membuat anak bisa bernapas lega. Sedangkan negatifnya bila ia muntah, justru berbahaya. Seperti sudah disebutkan di atas, anak bisa tersedak muntahannya sendiri. Akibat selanjutnya adalah masuknya cairan tersebut ke paru-paru dan mengakibatkan respirasi pneumonia.

- Tengkurap, positifnya relatif aman bila anak muntah karena muntahannya langsung bisa keluar dan menghindarinya dari bahaya tersedak. Seringkali orang tua khawatir kematian mendadak *Sudden Infant Death Syndrome* (SIDS), karena anaknya tidur tengkurap, padahal tentu saja hal ini tidak terjadi kalau caranya tepat.

Cara Menanganinya:

-Telentang. Pastikan anak tidak muntah atau tersedak oleh muntahannya sendiri. Ada baiknya cek kondisi anak tiap jam.

- Tengkurap. Bila si kecil sudah dapat memutar kepalanya ke kanan-kiri, anak bisa ditidurkan dengan posisi tengkurap. Atau patokan lainnya adalah anak tersebut lahir cukup bulan, tidak ada kelainan dengan sistem sarafnya.

- Pastikan di sekitar posisi tidurnya tidak ada kain yang bisa "menjeratnya". Selimut/sprei yang kusut dapat menutupi hidung/mulutnya, hingga anak akan kesulitan bernapas.

- Dengan posisi tengkurap, jangan gunakan bantal untuk menyangga kepalanya, sebab bukan tak mungkin saat anak hendak memutar kepalanya, ia tersangkut bantal hingga tidak bisa bernapas.

- Cek posisi tidurnya tiap jam sekadar untuk memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.

Sumber : Tabloid Nakita
5/23/2006 01:54:00 PM :: 0 comments ::

Irvana's Family :: permalink


Kendalikan Agresifitas Buah Hati Anda

Friday, February 17, 2006
Bam2 (17 bln) kalo kesel/marah ga bisa mukul, kakinya yg dibuat nendang or gigi buat menggigit.....kalo ga kena juga, kepala plontos'e dijedutin ke tembok, lantai ato bidang yg ada didpn dia......

Pernah terkaget-kaget karena si kecil yang baru berusia 2 atau 3 tahun memukul dengan membabi buta saat sedang kesal? Belum lagi bila memukul saja tidak mempan, maka mulailah ia 'unjuk gigi', dalam arti literal, yaitu menggigit! Beberapa kekerasan lain seperti juga mencakar atau menendang juga termasuk pernah dilakukan si kecil Kasus ini terjadi pada Dina (29 tahun), Miki (2,5 tahun) seringkali melalukan hal-hal diatas saat suasana hatinya sedang buruk. Semakin diomeli, Miki malahan semakin keras menentang dan melakukan kekerasan lebih hebat lagi. Sangat agresif? Yup. Normalkah? Tentu!
Why?
Perilaku agresif memang merupakan hal yang normal pada perkembangan anak. Pada usia 2-3 tahun, anak memang sedang masuk pada fase dimana ia ingin sekali menjadi mandiri. Usia yang juga merupakan tonggak awal untuk transisi masa perkembangannya. Sayangnya, kemauan untuk mandiri ini belum diimbangi dengan kemampuan bahasa, sehingga komunikasi kadang tidak berjalan dengan baik dan lancar. Akibat dari 2 hal yang belum selaras ini, maka buah hati Anda cenderung mengekspresikannya dalam bentuk tindakan fisik yang agresif. Karena justru cara itulah yang paling bisa dilakukannya dengan mudah. Belum lagi juga pemikiran anak terpaku pada 'diri sendiri' dan 'kepunyaan'. Walaupun begitu tentunya agresifitas anak masih bisa dimaklumi karena wajar terjadi dalam perkembangannya. Hanya saja, Anda bisa membantu mengurangi agresifitas si kecil jadi lebih terkendali. Tapi sebelumnya, Anda juga harus bercermin pada diri sendiri. Lebih dulu kendalikanlah emosi / rasa marah Anda. Toh tidak mungkin Anda memintanya tidak berteriak sambil memukul sambil Anda sendiri menjewer kuping dan membentaknya. Bagaimanapun, anak pasti akan bercermin pada orang tuanya. Beberapa hal yang telah diterapkan dengan hasil yang cukup efektif, mungkin bisa Anda praktekkan padanya..
Beri batasan yang jelas sedari awal
Walaupun mungkin terdengar sangat klise, tapi memang cara ini efektif untuk mengendalikan dan mencegah perilaku anak sebelum dia terlanjur melakukan tindakan agresif. Sampaikan dengan singkat dan jelas apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukannya di setiap kegiatan/permainan bersama dengan orang lain. Yang jelas, konsistensi disini mutlak hukumnya. Misalnya ia sedari awal diberitahu bahwa tidak boleh merebut boneka temannya saat bermain dan bila itu terjadi, dia akan dilarang bermain. Bila ada kejadian ia merebut boneka, jangan tunggu sampai 2-3 kali terjadi, langsung larang ia bermain. l Penyaluran Emosi Bicaralah baik-baik padanya untuk menyalurkan kemarahan dan emosinya pada hal lain, tetapi tidak memukul, mencakar, menggigit ataupun kekerasan lainnya. Biarkan ia berteriak untuk melampiaskan kekesalannya. Bisa juga dengan membelikannya mainan yang bisa dipukul tapi tidak melukainya, misalnya punch sack dengan isi pasir pada dasarnya. l Jangan pelit pujian Jangan hanya terfokus pada hal-hal negatif yang dilakukannya dan pelit pujian untuk hal positif. Bila ia berbaris dengan tertib di sekolah tanpa mendorong temannya seperti biasa, beri ia pujian bahwa hal seperti itulah yang benar. Pujian seperti, "Nah gitu dong sayang, itu namanya anak pintar," tidak akan membuat lidah Anda lelah kok.
Yang jelas, satu hal penting yang tidak bisa ditinggalkan adalah menjaga sikap Anda. Ingat, si kecil bercermin dari Anda. Good luck!

Source : Hanyawanita.com
2/17/2006 09:15:00 AM :: 0 comments ::

Irvana's Family :: permalink


3 MANFAAT SUKA MENJATUH-JATUHKAN BENDA

Wednesday, February 01, 2006
Tiap batita akan melalui fase hobi menjatuh-jatuhkan benda. Mengapa batita suka sekali pada aktivitas ini? Sensasi apa, sih, yang dirasakannya saat melihat benda yang dipegangnya jatuh?

Sampai pegal rasanya menemani Reno bermain. Maklum, si kecil yang baru saja menginjak usia 1 tahun ini lagi suka-sukanya menjatuhkan barang apa pun yang dipegangnya. Setelah diambilkan, benda tersebut akan dijatuhkannya lagi, begitu terus sampai yang menemaninya bermain bosan karena berulang kali harus membungkuk mengambilkan benda yang ia jatuhkan.


"Tiap batita akan mengalami fase ini, walaupun waktu mulainya tidak harus persis sama. Tapi yang jelas tahapan ini akan dilalui di usia batita awal," ujar Vera Itabiliana, Psi., dari Yayasan Pembina Pendidikan Adik Irma, Jakarta. Meski tiap anak batita pasti melewati tahap ini, tapi durasinya bisa berbeda-beda pada tiap anak. "Ada yang melaluinya dalam jangka waktu sebentar saja, tapi ada juga yang sedikit lebih lama."

Yang justru perlu diwaspadai adalah bila sampai berusia 1 tahun, kemampuan menggenggam sebagai awal fase menjatuhkan belum terlihat berkembang. "Untuk melatihnya, berikan anak benda-benda yang menarik untuk diraih dan digenggam sebagai sarana latihannya," saran Vera. Selain itu orang tua juga bisa memberikan contoh bagaimana menggenggam dan kemudian menjatuhkan benda tersebut agar anak bisa merasakan sensasi yang didapat.

EKSPLORASI INDRA

Sensasi apa sebenarnya yang dirasakan batita saat menjatuh-jatuhkan barang? "Yang paling menarik buat anak adalah suara yang ditimbulkan benda jatuh tersebut," tutur Vera. Bisa suara gemerincing mainan, kaleng, atau bahkan suara barang pecah.

Di usia ini indra anak sedang dalam tahap eksplorasi besar-besaran. Saat melakukan aktivitas tersebut, anak akan menemukan fenomena yang menarik. Di antaranya indra pendengaran akan menangkap bunyi benda jatuh. Indra penglihatannya akan menangkap benda bergerak dari atas ke bawah. Sementara indra perabanya akan merasakan benda yang tadinya ada di tangan kemudian terlepas. Dari hal-hal itulah anak akan belajar bahwa yang ia lakukan sendiri bisa menimbulkan sesuatu yang menyenangkan.

BANYAK MANFAAT

Karena dilakukan terus-menerus, sering kali orang dewasa yang menemani si batita bermain jadi bosan karena harus bolak-balik mengambilkan benda yang dijatuhkannya. "Padahal banyak sekali manfaat yang bisa didapat anak saat melakukan kegiatan tersebut. Lewat fase ini sebenarnya anak melatih keterampilan tangannya. Anak belajar mengkoordinasikan dan mengarahkan gerakan tangannya untuk tujuan tertentu," papar Vera. Fase ini biasanya mengikuti fase belajar menggenggam lalu disusul dengan keterampilan melempar-lempar bola.

Selain keterampilan tangan, ada 3 kemampuan lain yang sedang dikembangkan batita melalui fase ini, yaitu:

o Mengembangkan persepsi tentang ruang.

Di sini anak mulai mengenali posisi atas dan bawah meski mereka belum punya kemampuan berbahasa untuk memberikan label mana atas dan mana bawah.

o Belajar hubungan sebab akibat.

Anak belajar bahwa sesuatu yang ia lakukan dapat menyebabkan sesuatu kejadian yang menyenangkan, seperti bunyi jatuh, perilaku "lucu" ayah atau ibu ketika mengambilkan benda yang jatuh dan sebagainya. Karena kegiatan ini menyenangkannya, ia akan cenderung melakukannya berulang-ulang.

o Mengembangkan kemampuan merencanakan dan menentukan tujuan.

Pertama kali menjatuhkan benda mungkin tidak disengaja. Namun setelah mendengar dan melihat reaksi yang dihasilkan dari benda-benda yang jatuh, anak akan merasakan sensasi dan kemudian mengulanginya. Selanjutnya tindakan menjatuhkan benda menjadi tindakan yang sengaja dilakukannya. Ini dapat diartikan, anak sudah mengembangkan kemampuan berpikir dan merencanakan melakukan sesuatu demi tujuan tertentu. Dalam hal ini adalah mendapatkan sensasi bunyi dan gerak benda jatuh.

7 STIMULUS YANG TEPAT

Tiap tahapan yang dilalui anak akan mendatangkan manfaat. Tentu saja selama orang tua dapat memberikan stimulus yang tepat. Yang penting bagi orang tua adalah betapapun "menyebalkannya" perilaku anak saat getol-getolnya menjatuhkan benda, harus diingat bahwa hal ini merupakan fase belajar bagi anak. Jadi, cobalah memanfaatkan momen ini untuk mengembangkan kemampuannya dengan 7 bentuk stimulus berikut:

1. Berikan benda/mainan yang aman untuk dijatuhkan, misalnya yang terbuat dari plastik, seperti sendok, mangkuk kecil, dan sejenisnya.

2. Usahakan memberikan berbagai benda yang menghasilkan beragam suara saat jatuh. Dengan demikian stimulus pendengaran anak pun jadi lebih kaya. Ia akan belajar bahwa ada macam-macam bunyi dari benda yang berlainan.

3. Orang tua harus ikut terlibat dalam aktivitas ini. Jadi, jangan puas hanya sekadar jadi "tukang mengambilkan" benda yang dijatuhkan si batita. Keterlibatan ini sangat bermanfaat untuk membantu proses belajar anak. Untuk mengenalkan konsep ruang, misalnya, katakan "Ya... sendoknya jatuh deh ke lantai." Jadi tidak sekadar mengambilkan benda yang dijatuhkan anak dan memberikannya kembali tanpa komentar apa pun.

4. Selain mengajarkan konsep ruang, orang tua juga bisa mengajarkan nama-nama benda kepada anak. Contohnya saat anak menjatuhkan bola, mainan, buku dan sebagainya, sebutkan nama benda-benda tersebut. Makin sering benda itu dijatuhkan maka makin sering namanya diulang-diulang, hingga dengan sendirinya anak akan mengenali apa nama benda yang dijatuhkannya itu.

5. Berikan anak sejumlah barang untuk dijatuhkan. Setelah barangnya habis (sudah jatuh semua) atau ketika orang tua merasa lelah atau dirasa aktivitas tersebut sudah berlebihan, hentikan. Caranya dengan mengalihkan perhatiannya ke aktivitas lain seperti memukul-mukul kaleng yang juga menimbulkan sensasi bunyi. Jadi, jangan hanya meminta anak untuk menghentikan aktivitasnya begitu saja tanpa ada pengganti.

6. Orang tua juga dapat memberikan bola untuk digenggam dan digelindingkan karena fase menjatuhkan ini akan berkembang menjadi kemampuan melempar atau menggelindingkan. Walaupun kemampuan anak belum sampai tahap ini, sebaiknya orang tua berusaha untuk selalu berada satu langkah di depan kemampuan anak, agar ia tetap terstimulus untuk terus mengembangkan kemampuannya.

7. Selama melakukan proses belajar, sebaiknya anak tidak ditekan dengan stimulasi yang berlebihan ataupun sebaliknya dihentikan dari kegiatannya dengan alasan apa pun. Memang, akan sangat melelahkan dan bisa menyulut frustrasi, tapi ingat banyak hal yang sedang dikembangkan anak melalui tahapan ini.

UNGKAPAN RASA MARAH

Yang justru perlu diwaspadai adalah ketika aktivitas menjatuh-jatuhkan benda masih terlihat dominan selepas anak berusia 3 tahun. Lain hal jika anak memang mengalami keterlambatan dalam perkembangan motorik atau cacat fisik. Sebab selepas usia ini, tukas Vera, tahapan tersebut harusnya sudah terlewati.

Amati dengan jeli apakah aktivitas menjatuhkan benda-benda ini bertujuan untuk menarik perhatian atau sebagai pelampiasan rasa marah. Jika benar demikian, maka orang tua harus segera mengatasinya. "Kalau sebagai luapan rasa marah, orang tua perlu menenangkan anak dan memberi contoh bagaimana mengekspresikan rasa marah dengan tepat. Tentu saja bukan dengan menjatuh-jatuhkan barang secara sengaja," saran Vera.
2/01/2006 10:13:00 AM :: 0 comments ::

Irvana's Family :: permalink


Mana yang Sakit, Nak?

Wednesday, January 25, 2006
Kiki menangis. Sesekali bocah berumur dua tahun itu memukul-mukul telinga kanannya. ''Apanya yang sakit, Nak? Kepalamu?'' tanya Dina, sang ibu, kebingungan. Si kecil terus menangis. Ia tak bisa menjelaskan panjang lebar apa yang dideritanya. Dan, Dina pun menebak-nebak kemungkinan yang terjadi pada buah hatinya.

Anak usia amat muda memang sulit memberi penjelasan tentang rasa sakitnya. Para pakar dari majalah Parents terbitan AS edisi Desember lalu memberikan beberapa panduan untuk menafsirkan rasa sakit yang biasa terjadi pada anak. Berikut sebagian panduan yang mereka berikan.

Telinga
Gejala: Menarik atau memukul-mukul telinga.
Kemungkinan: Infeksi telinga atau tekanan dan nyeri akibat pilek. Si kecil mungkin juga demam, sakit telinga, dan ada cairan yang keluar dari telinganya. Kurangi ketidaknyamanan anak dengan memberi kompres kain hangat yang lembab di telinga dan memberi obat antinyeri. Hubungi dokter, tapi ingat bahwa ia mungkin tak langsung memberi obat antibiotika karena sebagian besar infeksi telinga sembuh sendiri setelah beberapa hari. (Mungkin ia mengecualikan anak di bawah 2 tahun atau yang punya gejala berat) Jangan kesampingkan: Tumbuh gigi --saraf di gusi 'berkelana' di sepanjang rahang menuju ke telinga. Gejala lain adalah keluarnya air liur, menggigit jari, dan gusi yang memerah dan membengkak. Urut gusinya dengan jari bersih atau kain basah dan berikan karet gigit-gigit yang menarik.

Kening
Gejala: Menekan jari-jari pada kening dan pelipis.
Kemungkinan: Sakit kepala karena alergi, pilek, tegang di mata, dehidrasi, lapar, atau kurang tidur. Berikan segelas jus buah atau camilan ringan bila ia belum makan. Bila ia tak merasa lebih baik, tidurkan anak di ruangan yang dingin dan agak gelap, letakkan kompres di keningnya, berikan acetaminophen atau ibuprofen. Bawa anak ke dokter bila rasa nyeri tetap ada sampai berjam-jam. Bila si kecil demam atau kaku lehernya (yang juga pertanda meningitis).
Jangan kesampingkan: Infeksi sinus, karena nyeri di lubang sinus sering beluas sampai ke kening. Gejala lain bisa termasuk demam, ingusan, napas berbau, dan nyeri di rahang atas dan gigi. Dokter mungkin merekomendasikan obat antinyeri atau memberi resep antibiotika.

Perut
Gejala: Memegang dan menggosok-gosok perut.
Kemungkinan: Sakit perut akibat infeksi viral atau pencernaan. Ini biasanya neri di atas pusar yang ditemani dengan diare, muntah atau demam. Tidurkan anak, dan letakkan bantal pemanas di perutnya. Beri anak banyak cairan. Bawa ke dokter bila rasa nyeri bertambah atau jika mungah dan diare tetap berlangsung.
Jangan kesampingkan: Sembelit, tak tahan laktosa, atau mungkin usus buntu. Jika Anak anda tidak buang air besar beberapa lama dan mengeluhkan bagian bawah perutnya, mungkin ia sembelit. Anak-anak yang mengalami intoleransi laktosa biasanya berulang kali mengeluh nyeri di perut setelah minum susu atau makan makanan produksi susu. Mereka biasanya diare dan kembung. Sakit usus buntu jarang terjadi. Tapi, jika si kecil mengeluh nyeri yang teramat sangat pada perut bagian kiri bawah, ia juga demam dan menggigil dan berkeringat banyak, bawa ke dokter.

Bokong
Gejala: Bokong sakit.
Kemungkinan: Terjadi iritasi akibat tidak bersih saat membersihkannya dan bisa juga sembelit. Bantulah anak membersihkan bokongnya dengan air hangat dan sabun, kemudian bersihkan dengan handuk kering dan berikan krem. Anda juga ingin memastikan bahwa ia minum banyak air dan makan makanan bersemak tinggi untuk meringankan sembelit. Bawa ke dokter bila tak juga sembuh.

Mengorok Gejala: Mengorok keras saat tidur.
Kemungkinan: Pilek atau alergi yang menyebabkan lendir menghambat saluran pernapasannya. Anak mungkin menunjukkan gejala pilek yang lain dan mengeluh sakit tenggorokan di pagi harinya (karena bernapas lewat mulut di malam harinya mengiritasi tenggorokannya). Agar anak tidur lebih enak, tinggikan posisi kepalanya dengan bantal tambahan (untuk bayi, letakkan sebuah buku di bawah satu kasur bagian kepalanya). Menggunakan obat tetes hidung sebelum tidur juga membantu.
Jangan kesampingkan: Apnea, napas terhenti sebentar karena tejadi gangguan-- bila anak mengorok terus berlanjut selama lebih dari dua minggu. Anak dengan amandel yang membengkak, paling sering menghadapi kondisi seperti ini. Saluran udara terbendung saat tidur. Gejala termasuk kesulitan bernapas di malam hari dan mengantuk di siang hari.

(parents ) http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=232096&kat_id=123
1/25/2006 11:19:00 AM :: 0 comments ::

Irvana's Family :: permalink


MENGAJARKAN MEMBACA PADA ANAK USIA PRASEKOLAH

Tuesday, January 24, 2006
Oleh :Maya Kania Mediani S.Psi
(Guru Cendekia Leadership School,. Jl. Belitung No.3 Bandung)

Sudah lama pro dan kontra timbul mengenai mengajarkan membaca pada anak prasekolah. Ada ahli yang mengatakan bahwa anak usia prasekolah tidak boleh belajar dan diajarkan membaca karena usia ini adalah usia bermain dan anak secara mental belum siap membaca hingga usia
6 tahun. Orangtua diingatkan bahwa dalam keadaan apapun tidak seharusnya mengajarkan membaca sebelum menginjak usia ini. Anak - anak akan tertekan jika diajari membaca karena belum siap menerima pengajaran yang diberikan.Tetapi dilain pihak ada pula pendapat yang mengatakan bahwa mengajarkan anak membaca sejak dini bisa saja dilakukan bahkan kemampuan ini dapat memperkaya, memperluas pengetahuan berfikir anak.

Pendapat itu dikuatkan dengan berbagai penelitian dan pendapat berbagai ahli:

1. Penelitian mengenai otak yang dilakukan oleh Dr. Marian Diamond yang menyimpulkan bahwa pada umur berapapun sejak lahir hingga mati adalah mungkin untuk meningkatkan kemampuan mental melalui rangsangan lingkungan. Sejauh menyangkut otak, ungkapan "use it or lose it" menunjukkan bahwa semakin terangsang otak kita dengan aktifitas intelektual dan interaksi lingkungan, semakin banyak jalinan yang dibuat antara sel-sel. Potensi otak dianggap tak terbatas.
Sebaliknya jika kita tidak menggunakannya maka kita akan kehilangan kesempatan untuk mengembangkannya.

2. Dilihat dari tahap perkembangan anak, usia prasekolah mengalami pertumbuhan yang pesat pada aspek bahasa. Terdapat hubungan antara bahasa dan membaca.
Kesiapan anak untuk membaca sebenarnya sudah dimulai sejak lahir. Sejak bayi anak sudah diajak berbicara.
Belajar mengenal bahasa dari lingkungannya. Bertolak dari pemikiran itu dapat dikatakan bahwa membaca sebenarnya hanyalah kelanjutan dari bahasa berbicara atau mengenal bahasa yang sudah dikenal anak.

3. Anak usia prasekolah mulai mengenal hubungan antara tulisan, bunyi dan artinya sehingga anak mengerti fungsi tulisan atau bacaan. Mereka mungkin senang membolak-balik buku, berpura-pura membacakannya serta mulai bertanya mengenai kata-kata tertentu yang tidak diketahuinya.

4. Menurut Elizabeth G. Hainstock :Anak - anak pra sekolah tidak hanya dapat diajarkan membaca tetapi bahwa inilah masa puncak anak secara alamiah dan antusias menyerap kecakapan - kecakapan membaca.

Jadi dapat disimpulkan bahwa belajar membaca merupakan proses yang dimulai sejak lahir. Dorongan untuk belajar mengalir secara alami dalam bentuk rasa ingin tahu yang kuat tentang dunia sekitar dan dari keinginan untuk memahami diri dan lingkungannya. Pada usia ini proses belajar didukung dengan tumbuhnya kesiapan untuk memahami bahasa dan minat terhadap kekuatan kata-kata. Jadi dapat dikatakan bahwa bukanlah sesuatu yang tabu untuk mengajarkan anak usia prasekolah membaca asalkan mereka sendiri sudah siap.

APA SIH "MEMBACA" ITU ?
Membaca merupakan salah satu fungsi tertinggi otak manusia.Secara teoritis membaca adalah suatu proses rumit yang melibatkan aktifitas auditif (pendengaran) dan Visual (penglihatan) untuk memperoleh makna dari simbol berupa huruf atau kata.
Aktifitas ini meliputi 2 proses :

1. Proses membaca teknis.

Yaitu suatu proses pemahaman hubungan antara huruf dengan bunyi atau suara dengan mengubah symbol - symbol tertulis berupa huruf atau kata menjadi system bunyi. Proses ini disebut sebagai pengenalan kata.
Misalnya : anak mengucapkan baik dalam hati maupun bersuara seperti kata : "adik minum " yang tecetak merupakan proses membaca teknis.

2. Proses memahami bacaan.

Yaitu kemampuan anak untuk menangkap makna kata yang tercetak. Pada waktu melihat tulisan " adik minum " anak tahu bahwa yang minum bukan ayah atau adik dalam tulisan itu tidak sedang makan. Penguasaan kosakata sangat penting dalam memahami kata-kata dalam bacaan.

BAGAIMANA MENGAJARKAN ANAK USIA PRASEKOLAH MEMBACA
2 Jenis pendekatan pengajaran yang sering disampaikan :

1. Menekankan pada pemahaman symbol / huruf.

Menekankan pengenalan system symbol bunyi sedini mungkin.
Misalnya : diperkenalkan dengan nama alphabet dan bunyinya. Dimulai dari huruf yang paling sederhana dan tinggi frekwensi penggunaannya. Dari pengenalan huruf dan bunyi ini kemudian berkembang menjadi penggabungan huruf menjadi suku kata atau kata.

2. Menekankan belajar membaca kata dan kalimat secara utuh.
Dengan pendekatan ini anak diharapkan dapat mencari sendiri sistem huruf - bunyi yang berlaku.
Para pakar hingga kini tidak mempunyai pendapat yang sama mengenai pendekatan yang lebih baik di antara keduanya. Beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa gabungan dari kedua pendekatan tersebutlah yang terbaik.

Apapun metode yang kita pergunakan, yang perlu kita ingat dalam mengajarkan membaca pada anak usia prasekolah adalah :

1. Pergunakan metode yang bervariatif sesuai dengan gaya dan kebutuhan anak. Hal ini mengingat bahwa setiap anak mempunyai kepekaan cara membaca yang berbeda satu sama lain.

2. Aktifitas dilakukan sambil bermain, bermain sambil belajar dan tidak formal. Masa anak - anak adalah masa bermain jadi sebaiknya tidak membebani anak dengan aktifitas pembelajaran formal yang menegangkan.

3. Ciptakan suasana yang nyaman, suasana yang menyenangkan dan penuh keakraban. Dalam mengajarkan anak membaca selama hal inidilakukan dengan suasana santai dan akrab, maka anak akan cepat menangkap apa yang diajarkan.

4. Tidak perlu lama - lama. Kurang lebih 10 - 15 menit, tapi rutin dan konsisten. Hal ini mengingat bahwa kemampuan konsentrasi pada anak usia prasekolah tidaklah lama.

5. Berhenti sebelum anak merasa bosan. Kita harus peka terhadap reaksi anak pada saat mengajarkan membaca. Dan tidak ada paksaan. Pada saat anak mulai tidak berkonsentrasi atau tidak tertarik lagi maka berhentilah.

6. Ingatlah bahwa setiap anak berkembang dengan iramanya sendiri. Tidak jarang seorang anak maju pada satu bidang tetapi lambat pada bidang lain.

BAGAIMANA MENGGUGAH MINAT MEMBACA PADA ANAK USIA PRASEKOLAH ?

1. Membacakan cerita pada anak - anak. Semakin sering membacakan untuk anak, akan semakin sering pula dia "membaca" mengikuti kita.
Di usia prasekolah anak terbiasa mendengarkan cerita akan bereksperimen dengan kata - kata, anak akan mencoba "meniru" membaca lebih dini dibanding anak yang tidak pernah dibacakan cerita. Semakin banyak cerita yang didengar anak-anak, akan semakin baik kemampuan membacanya dikemudian hari.Dengarkan jika anak "membacakan" cerita. Jangan buru-buru memotong "bacaannya " jika apa yang dibacanya tidak persis sama dengan kata-kata di buku. Selama ia masih mengingat jalan ceritanya berarti dia sedang dalam usahanya untuk dapat membaca.

2. Sikap kita terhadap buku. Biarkan anak-anak melihat cara kita membaca dan melihat kita menikmati dan asyik dengan apa yang kita baca. Untuk memperlihatkan pada anak-anak bahwa membaca adalah menyenangkan. Anak juga dapat melihat manfaat dari membaca.

3. Libatkan anak dalam kegiatan bahasa yangberbeda-beda termasuk saat bercakap-cakap dimana kita bisa berbagi cerita, bercanda, bernyanyi, membaca syair dan permainan bahasa lainnya. Aktifitas ini membantu anak anda mengembangkan kemampuan membedakan suara, pengembangan kosakata, sensitivitas terhadap struktur kata dan keahlian - keahlian lain yang penting untuk keberhasilan membaca dikemudian hari.

4. Temukan buku - buku anak - anak, majalah - majalah dan gambar - gambar yang sesuai dengan minat anak dan usianya. Tempatkan ditempat yang mudah dijangkau anak - anak. Fasilitasi dengan tempat yang nyaman.

5. Jadikan rutinitas pergi ke perpustakaan dan ke toko buku.

6. Perkenankan anak yang lebih tua dan sudah bisa membaca untuk membacakan cerita pada adiknya yang lebih muda.

7. Pada umumnya semua anak senang dipuji. Itu sebabnya jangan banyak mengkritik jika anak membuat kesalahan ketika membaca. Kalaupun dia membuat kesalahan seperti " sapu " dibaca " sapi " tetap pujilah usahanya itu dengan mengatakan bahwa dia sudah pandai pada awalnya hanya keliru sedikit di akhir katanya. Pujian adalah dorongan hebat bagi si kecil untuk terus belajar membaca.


Sumber :
1. Seri Ayahbunda : Kesehatan dan Perilaku Anak Usia Sekolah Dasar
2. Seri Ayahbunda : Usia Prasekolah
3. http : www.parentplace.com
4. Membantu Putra anda Belajar Membaca, Betty Root.

1/24/2006 10:22:00 AM :: 0 comments ::

Irvana's Family :: permalink


Keinginan Anak dari Orang Tuanya

Friday, January 13, 2006
Ternyata, anak pun punya harapan kepada orang tua. Mereka menginginkan orang tua yang punya waktu luang untuknya, yang mau berbagi, dan sebagainya. Apa lagi ?

Sudah seminggu ini Tesa diam membisu. Tak mau makan, enggan belajar, bahkan berbicara pun pelit. Selidik punya selidik, ternyata gadis 8 tahun ini tengah ngambek dan kesal pada orang tuanya. Menurutnya, orang tuanya hanya peduli pada diri mereka sendiri, dan membiarkan
dirinya tumbuh sendiri bersama orang lain alias pembantu yang setiap hari mengasuhnya.

Terlalu sibuk, itu alasan klise kenapa banyak orang tua yang akhirnya menyerahkan urusan si kecil pada baby sitter atau pembantu. Padahal, anak menginginkan orang tua yang mau meperhatikan mereka.

Apa lagi keinginan anak yang perlu diketahui orang tua ?

1. WAKTU LUANG

"Mama, kok, sibuk terus, sih? Memangnya kerja enggak ada liburnya?"
protes Tesa suatu hari pada sang mama.

Ya, boleh-boleh saja Anda sibuk berkarier di luar rumah, karena tujuan bekerja pasti untuk anak juga. Namun, anak pun menginginkan Anda memiliki waktu luang baginya. Jadi, Anda harus pintar me-manage waktu. Yang pasti, Anda harus menetapkan hari libur yang tak boleh
lagi diusik dengan pekerjaan. Pergunakanlah waktu libur bersama anak.


2. KASIH SAYANG

Kebutuhan anak tak hanya kebutuhan fisik. Hal ini seringkali tidak disadari para orang tua yang sibuk berkarier. Mereka berpikir, melimpahi anak dengan harta benda sudah cukup.

Padahal tidak, kasih sayang dan perhatian Andalah yang paling penting untuk anak. Bentuk perhatian tidak melulu harus hadiah, tetapi dengan menemaninya belajar ataupun bermain, sudah cukup membuat anak senang.

3. TIDAK BERTENGKAR

Orang tua kadangkala tidak menyadari, saat emosi mereka memuncak, masalah anak dikesampingkan. Cekcok di depan anak lalu tak lagi jadi masalah, tidak peduli apakah anak merasa tertekan atau tidak, yang penting amarah itu bisa terlampiaskan.

Cara ini jelas salah. Boleh-boleh saja Anda dan pasangan bertengkar, tetapi janganlah di depan anak. Secara psikologis, ini tidak baik untuk perkembangan anak. Jiwanya akan tertekan dan ia akan bingung, siapa yang harus dibela dan disalahkan. Ayahnya-kah atau ibunya-kah?
Nah, jika persoalan muncul, sebaiknya selesaikan saat anak tidak di rumah atau sedang tidur, sehingga ia tidak melihat atau mendengar orang tuanya tengah 'berantem'.

4. TIDAK PILIH KASIH

Ninies mempunyai 2 anak. Tesa dan Oiya. Nah, si kecil Oiya diberi perhatian yang lebih dibandingkan Tesa. Pikirnya, si kakak juga akan mengerti bahwa adiknya itu bungsu. Jadi, wajar saja jika ia berlaku demikian.

Padahal, cara ini jelas salah dan tidak mendidik. Jangan sekali-sekali membedakan kasih sayang antara anak yang satu dengan anak yang lain. Jelas ini akan membuat anak yang dinomor duakan cemburu. Jangan pernah membuat batasan, yang bungsu harus lebih disayang dari
yang besar.

5. RAMAH

"Mama jahat, Mama judes! Tesa benci sama Mama!", protes Tesa suatu
hari pada sang Mama. Pasal kekesalannya, karena ketika temannya berkunjung ke rumah, mamanya tidak bersikap ramah. Memang, sih, ia tidak memberitahukan teman-teman sekolahnya akan datang, sehingga merepotkan mamanya menyiapkan makanan.

Sikap orang tua yang tidak bersahabat pada teman-teman si kecil jelas akan membuat anak merasa tidak nyaman. Dan ini sangat sering terjadi. Saat orang tua bete dan tidak siap menerima kedatangan teman anaknya, timbullah sikap tidak bersahabat. Untuk itu, meski
suasana hati sedang tidak nyaman, cobalah tetap bersikap ramah pada teman-teman si kecil. Ingat, anak tak siap menerima perlakuan seperti itu dan akan berontak jika orang tuanya mempermalukannya.

6. MENEPATI JANJI

Janji adalah utang yang harus ditepati. Hal ini seringkali terlupakan para orang tua. Mereka menganggapnya sepele dan merasa tidak perlu harus selalu menepati janjinya pada si kecil. Bisa jadi, orang tua memang lupa, tapi sebaiknya hindari ingkar janji.

Ninies misalnya. Ketika Tesa sakit dan sulit minum obat, ia menjanjikan akan memberikan hadiah tas baru kalau mau minum obat. Namanya anak, diiming-iming dapat hadiah jelas saja bersemangat. Setelah sembuh, janji itu ditagih. Ternyata janji tinggal janji.
Jelas saja si anak kecewa yang berujung dengan aksi ngambek dan nangis.

Sebaiknya, jangan pernah memberikan janji pada anak, jika hal itu hanya Anda maksudkan bercanda atau tidak sungguh-sungguh. Anda tidak mau, kan, dicap anak sebagai orang tua pembohong? Jika Anda sudah telanjur janji, sebaiknya ditepati.

7. PINTAR

Hal lain yang perlu Anda ketahui, anak ternyata juga menginginkan punya orang tua yang pintar dan cekatan. Tidak harus menjadi seorang profesor, tetapi setiapkali ia bertanya, Anda bisa menjawabnya.

Berikan jawaban yang masuk akal. Sebaiknya, berikan jawaban yang simpel dan tidak terlalu rumit, karena justru akan membuat anak bingung. Dalam hal pelajaran misalnya, Anda bisa mengikuti perkembangan belajar anak dari hari ke hari dan membaca buku pelajarannya. Dengan demikian, Anda akan mendapatkan solusi saat si anak mengalami kesulitan dalam belajar.

8. JADI TEMAN

Hubungan antara orang tua dan anak seringkali tidak harmonis, karena orang tua membuat batasan, tidak mau mengakrabkan diri pada anak dengan alasan agar anak segan. Padahal, sebagai anak, mereka juga menginginkan orang tua tidak saja menjadi tempat untuk meminta
ataupun berlindung, melainkan juga bisa diajak berbagi alias curhat.

Nah, inilah yang terkadang tidak disadari para orang tua. Sulit membaur dalam kehidupan anak, membuat jarak, dan tidak mau tahu masalah yang dihadapi anak. Mulai sekarang, cobalah menata kembali hubungan Anda dan anak agar lebih akrab. Sehingga posisi Anda tak
hanya sebagai orang tua, tetapi juga bisa sebagai teman.

9. MAMPU MENGATASI MASALAH

Seringkali, orang tua tidak menyadari sikapnya, dan mengeluh di depan anak. Keluhan Anda pun bermacam-macam, dari masalah keluarga sampai urusan pekerjaan yang membuat bingung si kecil. Mau tidak mau, ini melibatkan anak untuk turut berpikir dalam persoalan yang
Anda hadapi. Padahal, itu tidak perlu. Kenapa harus berbagi masalah dengan anak? Apa yang dapat Anda harapkan dari seorang anak yang masih kecil dan pola pikirnya belum luas? Kalaupun anak memberikan pendapat, pasti Anda tidak puas karena tidak sesuai dengan yang Anda harapkan. Jadi, bicarakan masalah Anda dengan pasangan ataupun orang yang lebih tua dan memahami masalah tersebut.

Sumber : Kompas - 15/Nop/05
1/13/2006 01:04:00 PM :: 0 comments ::

Irvana's Family :: permalink